Pemateri : Ustadz Muhamad Refsanjani Fahreza, S.H., M.H.
Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada kedudukan bulan Muharram sebagai salah satu bulan haram yang disucikan oleh Allah Ta’ala. Khotib mengajak jamaah untuk menyambut bulan mulia ini dengan memperbanyak amal saleh, khususnya ibadah puasa, serta meluruskan pemikiran dan sikap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari Asyura (10 Muharram).
Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:
1. Kemuliaan Waktu dan Tempat Pilihan Allah Ta’ala
* Hakikat Pilihan Allah Ta’ala: Sesuai firman-Nya, Allah Ta’ala menciptakan dan memilih apa saja yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala mengutamakan tempat tertentu seperti Mekkah, Madinah, Baitul Maqdis dan waktu tertentu seperti bulan Ramadan dan empat bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
* Konsekuensi Bulan Haram: Di dalam bulan-bulan suci ini, setiap amal saleh yang dikerjakan akan dilipatgandakan pahalanya, begitu pula sebaliknya, perbuatan dosa dan maksiat akan dilipatgandakan dosanya.
2. Puasa Muharram dan Keutamaan Hari Asyura (10 Muharram)
* Puasa Terbaik: Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.
* Sejarah Puasa Asyura: Hari Asyura sudah diagungkan sejak zaman jahiliyah oleh kaum Quraisy dan kaum Yahudi. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berhijrah ke Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa Alaihissalam dan tenggelamnya Firaun.
* Prioritas dan Syariat: Sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadan, puasa Asyura berhukum wajib, bahkan para sahabat melatih anak-anak kecil mereka untuk berpuasa dengan mengalihkan rasa lapar menggunakan mainan. Setelah puasa Ramadan wajib, hukum puasa Asyura menjadi sunnah mutakkad atau sangat ditekankan.
* Pahala Agung: Puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki keutamaan luar biasa, yaitu dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.
* Menyelisihi Yahudi (Puasa Tasu’a): Di akhir hayatnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berazam jika masih hidup di tahun berikutnya, beliau akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) pendamping hari Asyura demi menyelisihi tradisi kaum Yahudi.
3. Meluruskan Dua Peristiwa Besar di Hari Asyura
Hari Asyura menyimpan dua catatan sejarah besar yaitu peristiwa kemenangan (selamatnya Nabi Musa Alaihissalam) dan peristiwa tragis (gugurnya cucu Nabi, Al-Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma pada tahun 61 Hijriyah di Karbala). Khotib menggarisbawahi pentingnya menyikapi takdir tersebut dengan pertengahan (wasathiyah), sesuai petunjuk sunnah:
* Bantahan terhadap Kaum Syiah (Berlebihan dalam Sedih): Kematian Al-Husein sebagai martir yang dizalimi memang menyedihkan, namun meratapinya secara berlebihan seperti memukul-mukul badan dengan pedang atau rantai adalah hal yang dilarang (nihayah). Khotib mengingatkan bahwa figur yang jauh lebih mulia dari Al-Husein seperti kakaknya Al-Hasan, ayahnya Ali bin Abi Thalib, Utsman, Umar, bahkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga wafat terbunuh atau diracun, namun tidak ada syariat untuk meratapi kematian mereka.
* Bantahan terhadap Kaum Nawasib (Berlebihan dalam Gembira): Sikap kelompok pembenci Ahlul Bait (Nawasib) yang justru merayakan hari Asyura dengan bersenang-senang, berpesta, atau membuat kue-kue khusus juga merupakan bid’ah yang keliru.
4. Meneladani Sunnah secara Murni
* Perumpamaan Bahtera Nuh: Khotib menegaskan khutbahnya dengan mengutip bahwa sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ibarat perahu Nabi Nuh Alaihissalam; siapa yang menaikinya akan selamat.
* Sikap Seimbang: Amalan yang murni diajarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada hari Asyura bukanlah meratap dan bukan pula berpesta, melainkan menahan diri dengan berpuasa demi mengharap ampunan Allah Ta’ala.
Penutup:
Mari kita persiapkan diri menyambut bulan Muharram dengan ilmu dan pemahaman yang lurus. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk menghidupkan puasa Tasu’a dan Asyura, membersihkan dosa-dosa kita, dan senantiasa membimbing kita di atas jalan sunnah yang lurus.