Pemateri : Ustadz Abdul Qohar Abu Nawwaf
Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada momentum Hari Tasyriq sebagai waktu yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya untuk menikmati rezeki fisik sekaligus memperbanyak bekal spiritual. Khotib mengajak jamaah untuk memadukan rasa syukur atas nikmat kurban dengan mengagungkan Allah Ta’ala serta membersihkan batin dari penyakit hati.
Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:
Hari Makan, Minum, dan Zikir: Setelah melewati Yaumun Nahr (10 Dzulhijjah), umat Islam memasuki tiga hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Merujuk sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: “Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan mengingat (berzikir kepada) Allah Ta’ala.”
Wujud Syukur Konkret: Menyantap dan membagikan daging kurban kepada sesama Muslim atau orang-orang tercinta merupakan ekspresi syukur atas rizki hewan ternak yang telah Allah Ta’ala mudahkan untuk disembelih.
Pengagungan Lahir dan Batin: Zikir tidak boleh berhenti di lisan saja, melainkan harus meresap ke dalam hati dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang lebih besar, lebih memberi manfaat, dan mampu mencegah mudarat kecuali Allah Ta’ala.
Amalan Tertinggi dan Tersuci: Mengutip hadis riwayat Abu Darda radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan bahwa zikir kepada Allah Ta’ala adalah amalan yang paling suci, paling tinggi dalam mengangkat derajat, bahkan lebih utama daripada menginfakkan emas dan perak serta lebih baik daripada puncaknya jihad (bertempur di medan perang).
Peringatan dari Kelalaian: Kontras dengan orang beriman yang merasa tenang dengan zikir, orang yang hatinya condong pada dunia akan merasa berat untuk mengingat Allah Ta’ala. Khotib mengingatkan firman-Nya agar kita tidak menjadi golongan orang yang lalai (minal ghafilin).
Kebahagiaan Hari Tasyriq harus disempurnakan dengan kebersihan batin melalui beberapa langkah nyata:
Membuka Pintu Maaf: Momentum hari raya adalah saat terbaik untuk melapangkan dada dan memaafkan kesalahan saudara sesama Muslim.
Menghalau Hasad dan Dengki: Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengingatkan bahwa seorang mukmin sejati bukanlah pribadi yang senang memelihara rasa iri atas nikmat yang didapat orang lain, dan bukan pula orang yang suka berpaling (mutadabir) memutus silaturahmi karena kebencian.
Ketenangan Jiwa: Hati yang bersih dari bisikan setan akan menjauhkan seorang hamba dari rasa sesak, sempit, dan putus asa, serta mendekatkannya pada rahmat Allah Ta’ala.
Menjemput Kebaikan: Khotib menutup dengan menekankan wasiat emas dari RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam: “Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah.”
Komitmen Istiqamah: Selalu bergantung pada Allah Ta’ala dalam mengejar amal saleh dan ketaatan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
Penutup:
Hari Tasyriq adalah hari kegembiraan yang penuh berkah. Mari kita basahi lisan dengan takbir, tahmid, dan tasbih di setiap keadaan, serta jaga kesucian hati kita agar nikmat yang ada saat ini terus ditambah dan dijaga oleh Allah Ta’ala.