Pemateri : Ustadz Abu Abdillah Kholidin, BSh, Mpdi
Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada hakikat tujuan penciptaan manusia serta pentingnya berkomitmen hidup di bawah naungan syariat Allah Ta’ala. Khotib mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum pergantian tahun baru Hijriyah 1448 sebagai sarana muhasabah diri atas berkurangnya usia di dunia.
Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:
- Hakikat Penciptaan Bukan untuk Kesia-siaan
- Tujuan yang Benar: Merujuk pada Surah Al-Ahqaf ayat 3, Allah Ta’ala menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan segala isinya tidak dilakukan secara main-main, melainkan dengan tujuan yang benar serta memiliki batas ajal yang telah ditentukan.
- Bantahan atas Persangkaan Keliru: Khotib membantah pandangan materialistis orang-orang lalai yang mengira dunia hanyalah tempat untuk makan, minum, menjadi tua, lalu mati tanpa pertanggungjawaban (Surah Al-Qiyamah: 36). Manusia diciptakan untuk sebuah misi besar.
- Syariat sebagai Panduan Hidup yang Sempurna
- Pengutusan Nabi dan Hukum: Di setiap generasi, Allah Ta’ala menurunkan syariat dan jalan petunjuk bagi manusia (Surah Al-Maidah: 48). Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ditunjuk sebagai nabi terakhir yang membawa syariat penutup yang wajib diikuti.
- Aturan di Segala Lini: Berdasarkan Surah Al-Jasiyah ayat 18, seorang Muslim dilarang mengikuti hawa nafsu orang yang tidak berilmu. Sebagaimana kehidupan profesional atau sosial memiliki tata tertib, alam semesta dan kehidupan manusia juga diatur oleh hak dan kewajiban syariat.
- Sumber Keberkahan: Menjalankan profesi apa pun—baik sebagai atasan, bawahan, aparatur sipil negara (ASN), swasta, maupun pedagang—di atas koridor syariat akan mendatangkan keberkahan, kemudahan, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
- Momentum Muhasabah di Awal Tahun Baru Hijriyah
- Berkurangnya Umur: Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriyah menandakan bahwa jatah usia kita di dunia telah berkurang satu tahun. Bertambahnya angka umur dalam hitungan duniawi sejatinya adalah berkurangnya kesempatan hidup.
- Peluang Memperbaiki Diri: Khotib mengingatkan agar sisa umur yang ada diisi dengan meniti jalan lurus (Sirotol Mustaqim) melalui evaluasi diri (muhasabah) yang jujur.
- Melawan Was-was Syaitan tentang Syariat
- Ilusi Kebebasan: Khotib mengkritik argumen keliru sebagian orang yang enggan belajar agama atau mendekati syariat dengan alasan takut merasa terkekang oleh aturan halal-haram.
- Kalimat Syaitoniyah: Ketakutan akan hilangnya kebebasan dalam syariat adalah bisikan dan was-was syaitan. Aturan Allah Ta’ala tidak pernah mempersempit, justru menjaga manusia agar hidupnya teratur dan bahagia.
Penutup:
Mari kita hilangkan sikap menutup telinga dari majelis ilmu. Pelajari syariat Allah Ta’ala selangkah demi selangkah agar kita mampu menjawab pertanyaan di alam kubur nanti. Semoga Allah Ta’ala memberkahi negeri kita Indonesia menjadi negeri yang aman, menunjuki para pemimpin kita di atas kebaikan, serta mewafatkan kita semua dalam keadaan selamat.