Minggu, 8 November 2026

Terbit : Jum, 06 November 2026

Seruan Mulia

Oleh : Muhamad Toshio khutbah Jum'at
Seruan Mulia

Pemateri : Ustadz Abu Ilyas Suherlan, B.Sh.

Khutbah Jumat | Masjid Urwah Al-Bariqi

Ada sebuah seruan yang begitu agung. Sebuah panggilan yang sangat mulia. Seruan yang tidak disertai celaan maupun hinaan, tidak pula dibarengi ancaman atau hukuman.

Sebaliknya, seruan ini mengandung keridaan, kemuliaan, keselamatan, dan kabar gembira yang luar biasa.

Itulah seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jiwa-jiwa yang tenang. Jiwa yang hidup dengan keimanan, senantiasa mengingat Allah, dan berusaha menghabiskan kehidupannya dalam ketaatan kepada-Nya.

Seruan tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai pengingat sekaligus harapan bagi setiap orang yang beriman.

Seruan Mulia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. Al-Fajr: 27–30)

Betapa indah dan mulianya seruan ini.

Allah menyeru jiwa yang tenang untuk kembali kepada Rabb-nya. Bukan sekadar kembali, melainkan kembali dalam keadaan rida dan mendapatkan keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah menyerunya untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya.

Adakah panggilan yang lebih mulia daripada panggilan ini?

Adakah keberhasilan yang lebih besar daripada menjadi hamba yang diridai Allah dan mendapatkan surga-Nya?

Inilah seruan yang selayaknya menjadi harapan setiap Muslim. Sebuah panggilan yang mengingatkan kita bahwa tujuan terbesar kehidupan bukanlah semata-mata memperoleh kesenangan dunia, melainkan meraih keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Siapakah Jiwa yang Mendapatkan Seruan Mulia?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut jiwa yang tenang dengan istilah an-nafsul muthma’innah.

Siapakah jiwa yang tenang tersebut?

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tenteram dengan keimanan kepada Allah. Jiwa yang senantiasa mengingat-Nya dan menjadikan ketaatan sebagai bagian dari kehidupannya.

Ia rida Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul-Nya.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang mengenal Rabb-nya sehingga tumbuh kecintaan kepada Penciptanya.

Ketika mengetahui perintah Allah, ia berusaha melaksanakannya. Ketika mengetahui larangan-Nya, ia berusaha menjauhinya.

Ia mengetahui janji-janji Allah sehingga senantiasa mengharapkan rahmat dan pahala dari-Nya. Ia juga mengetahui ancaman Allah sehingga tumbuh rasa takut yang menjaganya dari perbuatan dosa.

Dengan demikian, ketenangan jiwa bukan sekadar keadaan seseorang yang terbebas dari kekhawatiran atau persoalan kehidupan.

Ketenangan tersebut lahir dari keimanan, pengenalan kepada Allah, dan kesungguhan dalam menjalankan penghambaan kepada-Nya.

Semakin seseorang mengenal Rabb-nya dan berusaha menaati-Nya, semakin besar sebab yang ia miliki untuk meraih ketenteraman hati.

Mengingat Allah, Jalan Menuju Ketenangan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan salah satu sebab utama ketenangan jiwa dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang sumber ketenangan hati seorang mukmin.

Ketenangan jiwa tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki. Ketenangan juga tidak dapat dijamin oleh luasnya rumah, tingginya jabatan, atau besarnya kedudukan seseorang di hadapan manusia.

Betapa banyak orang yang memiliki harta berlimpah, tetapi tidak mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.

Betapa banyak orang yang mempunyai kedudukan tinggi, tetapi hatinya tetap dipenuhi kegelisahan.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang kehidupannya sederhana, bahkan berada dalam berbagai keterbatasan, tetapi hatinya tenteram karena senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Hatinya dipenuhi dengan keridaan. Ia senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan menerima ketentuan-Nya dengan penuh keimanan.

Hal ini menunjukkan bahwa harta dan kedudukan bukanlah jaminan ketenangan jiwa.

Seorang Muslim tentu diperbolehkan mencari rezeki, bekerja, dan menikmati karunia Allah yang halal. Namun, semua itu tidak boleh membuatnya melupakan sumber ketenangan yang sesungguhnya.

Hati yang senantiasa mengingat Allah memiliki landasan ketenteraman yang tidak dapat digantikan oleh kemewahan dunia.

Karena itu, hendaknya kita memperbanyak zikir, memperbaiki salat, membaca dan merenungkan Al-Qur’an, serta senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Jiwa yang Tenang Bukanlah Jiwa yang Tidak Pernah Bersedih

Salah satu pelajaran penting dari khutbah ini adalah bahwa jiwa yang tenang bukan berarti jiwa yang tidak pernah mengalami kesedihan.

Jiwa yang tenang bukanlah jiwa yang tidak pernah merasakan sakit, kehilangan, ataupun beratnya ujian.

Boleh jadi seseorang yang memiliki jiwa tenang tetap menangis ketika menghadapi musibah.

Boleh jadi ia merasakan kesedihan yang mendalam ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya.

Boleh jadi ia menghadapi ujian kehidupan yang begitu berat hingga merasakan kepedihan dalam hatinya.

Namun, dalam keadaan tersebut, ia tetap berusaha berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Ia berusaha bersabar menghadapi ujian dan mengharapkan pahala dari Allah atas kesabarannya.

Kesedihan tidak membuatnya meninggalkan ketaatan. Kesulitan tidak menjadikannya berputus asa dari rahmat Allah.

Ia tetap berdoa, memohon pertolongan, dan menggantungkan harapannya kepada Rabb-nya.

Inilah salah satu gambaran ketenangan jiwa yang sesungguhnya.

Jiwa yang tenang bukanlah jiwa yang tidak pernah diuji, melainkan jiwa yang tetap kembali kepada Allah ketika menghadapi ujian.

Seorang mukmin dapat merasakan kesedihan, tetapi ia tidak kehilangan harapan kepada Allah. Ia dapat merasakan beratnya musibah, tetapi tetap berusaha mempertahankan keimanan dan ketakwaannya.

Merenungkan Seruan Mulia di Akhir Kehidupan

Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.

Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya. Tidak ada pula yang mengetahui secara pasti kapan ajalnya akan tiba.

Akan datang suatu hari ketika ruh berpisah dari jasad dan seluruh kesempatan untuk beramal di dunia berakhir.

Harta yang selama ini dikumpulkan akan ditinggalkan. Rumah yang dibangun tidak lagi menjadi tempat tinggalnya. Jabatan dan kedudukan yang pernah dimiliki tidak mampu menghalangi datangnya kematian.

Pada saat itulah setiap manusia akan menghadapi kenyataan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Maka, renungkanlah seruan Allah dalam Surah Al-Fajr:

Yā ayyatuhan-nafsul muthma’innah.

“Wahai jiwa yang tenang!”

Irji’ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”

Sungguh, betapa besar harapan seorang mukmin untuk memperoleh kemuliaan yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Bukankah kita semua mengharapkan agar akhir kehidupan kita menjadi akhir yang baik?

Bukankah kita menginginkan agar ketika kembali kepada Allah, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keridaan-Nya?

Jika demikian, sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri sejak sekarang.

Jangan sampai kehidupan yang singkat ini berlalu tanpa kesungguhan dalam memperbaiki hubungan dengan Allah.

Memperbaiki Diri untuk Meraih Keridaan Allah

Apabila kita mengharapkan seruan mulia tersebut, hendaknya kita berusaha menjadi hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbaikilah hubungan kita dengan Rabb kita.

Perbaikilah salat dan ibadah kita.

Perbanyaklah zikir, istigfar, dan amal saleh.

Pelajarilah agama agar kita semakin mengenal siapa Rabb yang selama ini kita sembah, kepada siapa kita rukuk dan sujud, serta kepada siapa seluruh doa dan harapan kita panjatkan.

Ketika mengetahui sebuah perintah dari Allah, berusahalah untuk melaksanakannya.

Ketika mengetahui sebuah larangan, berusahalah untuk menjauhinya.

Dan ketika terjatuh dalam kesalahan, jangan menunda untuk bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya.

Sebab, tidak ada jalan untuk meraih keridaan Allah kecuali dengan berusaha menghambakan diri kepada-Nya dengan sebenar-benar penghambaan.

Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

Karena itu, jangan menunggu datangnya masa tua untuk memperbaiki diri. Jangan pula menunda ketaatan dengan anggapan bahwa waktu yang kita miliki masih panjang.

Selama Allah memberikan kehidupan, selama itulah kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki amal dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Kehidupan Dunia Hanyalah Sementara

Dalam khutbah kedua, khatib kembali mengingatkan bahwa sepanjang apa pun umur manusia di dunia, pada hakikatnya kehidupan ini sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Sebanyak apa pun kekayaan dan kenikmatan yang Allah berikan kepada seseorang, semuanya tidak sebanding dengan kenikmatan surga yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa dunia bukanlah tujuan utama kehidupannya.

Dunia merupakan tempat untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.

Setiap waktu yang berlalu merupakan bagian dari kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk beramal.

Harta dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan untuk sesuatu yang diridai Allah.

Ilmu dapat menjadi bekal apabila diamalkan dan diajarkan.

Kesehatan dan waktu luang dapat menjadi nikmat yang sangat berharga apabila digunakan untuk ketaatan.

Jangan sampai seluruh perhatian kita tercurah untuk mengejar kehidupan dunia, sementara bekal menuju akhirat justru kita abaikan.

Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan yang paling agung bukanlah seberapa banyak kenikmatan dunia yang berhasil dikumpulkan, melainkan apakah kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penutup: Sudahkah Kita Mempersiapkan Diri untuk Seruan Mulia?

Seruan Allah kepada jiwa yang tenang merupakan pengingat yang sangat mendalam bagi setiap Muslim.

Melalui Surah Al-Fajr ayat 27–30, kita diingatkan tentang kemuliaan jiwa yang kembali kepada Allah dalam keadaan rida dan diridai.

Seruan ini hendaknya menumbuhkan kerinduan terhadap akhir kehidupan yang baik sekaligus mendorong kita untuk memperbaiki diri.

Jangan hanya mengejar ketenangan melalui kenikmatan dunia.

Jangan menjadikan harta, jabatan, dan kedudukan sebagai tujuan akhir kehidupan.

Sebaliknya, marilah kita membangun ketenangan hati melalui keimanan, zikir, ketakwaan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mengingat-Nya dalam keadaan lapang maupun sempit.

Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang tenteram dengan keimanan, kesabaran ketika menghadapi ujian, serta keistikamahan dalam menjalankan ketaatan.

Dan semoga ketika tiba waktunya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan keridaan-Nya dan memperoleh kemuliaan sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. Al-Fajr: 27–30)

Amin, ya Rabbal ‘alamin.


Sumber: Materi khutbah Jumat tentang Seruan Mulia, disusun dan disunting untuk publikasi website Masjid Urwah Al-Bariqi.

Rujukan Al-Qur’an:

  • Surah Al-Fajr ayat 27–30.
  • Surah Ar-Ra’d ayat 28.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Urwah Al-Bariqi Cimandala
Galleria Vivo Mall Lt. UG Jl. Raya Jakarta-Bogor No.Km. 50, Cimandala, Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710
  • Donasi untuk masjid dapat disalurkan ke Rekening BSI 7355994389 a.n Masjid Urwah Al-Bariqi
Tanya Ustadz