Pemateri : Ustadz Abdul Qohar Abu Nawwaf
Khutbah Jumat | Masjid Urwah Al-Bariqi
Salah satu tanda keimanan dan kelembutan hati seorang Muslim adalah mudahnya hati tersentuh ketika mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hatinya terenyuh ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, merenungkan besarnya nikmat Allah, mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan, serta menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Menangis karena Allah bukan sekadar mengeluarkan air mata. Tangisan tersebut lahir dari rasa takut kepada-Nya, penyesalan atas dosa, pengharapan terhadap ampunan-Nya, dan kesadaran akan kebesaran serta kasih sayang-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah memberikan teladan tentang bagaimana seorang Mukmin memiliki hati yang lembut, mudah tersentuh oleh nasihat, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.
Namun, tidak sedikit manusia yang justru semakin sulit menangis ketika mengingat Allah. Hatinya tidak lagi mudah tersentuh oleh bacaan Al-Qur’an maupun peringatan tentang kematian.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Apa keutamaan menangis karena takut kepada Allah? Dan apa saja yang menyebabkan hati seorang hamba menjadi keras?
Menangis karena Allah Merupakan Sifat Orang-Orang Beriman
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan orang-orang yang diberi ilmu ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah (dengan) bersujud.”
(QS. Al-Isra’: 107)
Kemudian Allah berfirman:
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.”
(QS. Al-Isra’: 109)
Ayat-ayat ini menggambarkan bagaimana ilmu yang bermanfaat dapat melahirkan ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang yang benar-benar mengenal Allah akan semakin menyadari kebesaran-Nya dan kelemahan dirinya sebagai hamba. Ia mengetahui bahwa seluruh nikmat yang dinikmatinya berasal dari Allah, sementara dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan dosa.
Karena itulah, ilmu agama seharusnya tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan semangat untuk memperbaiki amal.
Semakin seseorang memahami ayat-ayat Allah, semakin besar pula dorongan dalam dirinya untuk tunduk dan taat kepada-Nya.
Salah satu bentuk ketundukan tersebut adalah menangis ketika mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Menangis Ketika Mendengarkan Al-Qur’an
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia yang paling mengenal Allah dan paling bertakwa kepada-Nya.
Meskipun demikian, beliau tetap memiliki hati yang sangat lembut dan mudah menangis ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk membacakan Al-Qur’an.
Ibnu Mas’ud merasa heran. Ia bertanya bagaimana mungkin dirinya membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah, padahal Al-Qur’an diturunkan kepada beliau.
Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa beliau senang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain.
Ibnu Mas’ud pun membacakan Surah An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat ke-41, ia membaca firman Allah:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Bagaimanakah (keadaan manusia) apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka?”
(QS. An-Nisa’: 41)
Ayat ini mengingatkan tentang dahsyatnya hari kiamat, ketika para rasul akan dihadirkan sebagai saksi atas umat mereka.
Mendengar ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya.
Ketika Ibnu Mas’ud melihat beliau, ternyata kedua mata Rasulullah telah berlinang air mata.
(HR. Al-Bukhari no. 5050)
Peristiwa ini menunjukkan betapa lembutnya hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau adalah manusia yang paling bertakwa, tetapi tetap menangis ketika merenungkan ayat-ayat Allah.
Bagaimana dengan diri kita yang masih memiliki begitu banyak dosa?
Sudahkah bacaan Al-Qur’an membuat hati kita tersentuh? Sudahkah kita merenungkan maknanya, atau justru hanya membacanya tanpa menghadirkan hati?
Kisah ini mengajarkan bahwa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an hendaknya disertai dengan tadabur, yaitu merenungkan makna dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang dibaca.
Keutamaan Menangis karena Takut kepada Allah
Menangis karena takut kepada Allah merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai susu kembali ke dalam ambingnya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1633, hadis hasan sahih)
Ungkapan bahwa susu kembali ke dalam ambing merupakan gambaran tentang sesuatu yang mustahil terjadi. Hadis ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan tangisan yang lahir dari rasa takut yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tangisan seperti ini bukanlah tangisan yang dibuat-buat untuk dilihat atau dipuji oleh manusia, melainkan lahir dari keimanan, ketakwaan, dan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Rabb-nya.
Mendapatkan Naungan Allah pada Hari Kiamat
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Salah satu golongan tersebut adalah:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang air mata.”
(HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan keutamaan seorang hamba yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga air matanya mengalir.
Ketika sedang sendirian, tidak ada manusia yang menyaksikan dirinya. Ia tidak sedang mengharapkan pujian atau perhatian orang lain.
Ia hanya mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mungkin ia teringat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Mungkin ia merenungkan betapa banyak nikmat yang telah diberikan Allah, tetapi belum disyukuri dengan baik.
Atau mungkin ia merasa takut karena menyadari bahwa suatu saat dirinya harus berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
Tangisan yang lahir dari keadaan seperti ini merupakan salah satu bentuk keikhlasan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah.
Utsman bin Affan Menangis Ketika Mengingat Alam Kubur
Kelembutan hati tidak hanya dimiliki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi juga tampak dalam kehidupan para sahabat beliau.
Salah satu contohnya adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Hani’, bekas budak Utsman bin Affan, menceritakan bahwa Utsman biasa menangis ketika berdiri di dekat kuburan hingga air matanya membasahi janggut.
Seseorang kemudian bertanya mengapa beliau menangis begitu dalam ketika berada di dekat kuburan, sedangkan ketika disebutkan surga dan neraka beliau tidak menangis seperti itu.
Utsman menjelaskan bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya kubur adalah tempat pertama dari tempat-tempat di akhirat.”
Beliau melanjutkan bahwa apabila seseorang selamat dari keadaan di alam kubur, maka urusan setelahnya akan lebih mudah. Namun, apabila tidak selamat, maka urusan setelahnya akan lebih berat.
(HR. At-Tirmidzi no. 2308, hadis hasan gharib)
Inilah yang membuat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menangis ketika mengingat alam kubur.
Beliau menyadari bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.
Alam kubur merupakan awal perjalanan manusia menuju kehidupan akhirat.
Kekayaan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dunia tidak akan mampu menghalangi datangnya kematian.
Karena itu, mengingat kematian seharusnya mendorong seorang Muslim untuk memperbanyak amal saleh, meninggalkan kemaksiatan, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Rasulullah dan Para Sahabat Menangis Ketika Mengingat Akhirat
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat.
Dalam khutbah tersebut, beliau bersabda:
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
(HR. Al-Bukhari no. 4621)
Ketika mendengar nasihat tersebut, para sahabat menutupi wajah mereka dan terdengar suara tangisan.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa surga dan neraka telah diperlihatkan kepada beliau.
Pengetahuan tentang keadaan akhirat membuat Rasulullah dan para sahabat memiliki rasa takut yang besar kepada Allah.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mengingat kehidupan akhirat dapat melembutkan hati seorang Mukmin.
Seorang Muslim hendaknya tidak membiarkan kesibukan dan kesenangan dunia membuat dirinya lalai dari persiapan menghadapi hari akhir.
Empat Penyebab Hati Menjadi Keras dan Sulit Menangis karena Allah
Setelah mengetahui keutamaan menangis karena Allah, muncul pertanyaan penting yang perlu direnungkan.
Mengapa terkadang kita begitu sulit menangis ketika mengingat Allah?
Mengapa ayat-ayat Al-Qur’an yang kita dengar tidak lagi menyentuh hati?
Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah kerasnya hati akibat kelalaian dan kemaksiatan.
Dalam khutbah ini dijelaskan empat perkara yang dapat menyebabkan hati seorang hamba menjadi keras.
Penyebab pertama adalah al-ghaflah ‘an dzikrillah, yaitu lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelalaian ini dapat berupa jarangnya seseorang berzikir, meninggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an, dan kurangnya perhatian terhadap amal saleh.
Seseorang mungkin memiliki banyak waktu untuk mengurus pekerjaan, menggunakan telepon genggam, menikmati hiburan, atau membicarakan berbagai urusan dunia.
Namun, ketika tiba waktunya membaca Al-Qur’an atau berzikir, ia merasa tidak memiliki waktu.
Apabila keadaan ini terus berlangsung, hati dapat semakin terbiasa dengan kelalaian.
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan membiasakan diri mengingat Allah dalam berbagai keadaan.
Penyebab kedua adalah at-tafrith fil faraidh, yaitu melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan.
Di antaranya tidak menjaga salat lima waktu, mengabaikan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua, serta meremehkan berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Ibadah wajib merupakan perkara yang harus mendapatkan perhatian utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Seseorang yang menginginkan hati yang lembut hendaknya berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah melalui pelaksanaan kewajiban-kewajiban tersebut.
Menjaga salat, berbakti kepada orang tua, menunaikan amanah, dan melaksanakan perintah Allah merupakan bagian dari usaha memperbaiki keadaan hati.
Penyebab ketiga adalah katsratul ma’ashi, yaitu banyaknya dosa dan kemaksiatan.
Dosa yang terus dilakukan dapat memberikan pengaruh buruk terhadap hati manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melakukan dosa, muncul titik hitam pada hatinya.
Beliau bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3334, hadis hasan sahih menurut At-Tirmidzi)
Dalam kelanjutan hadis tersebut dijelaskan bahwa apabila seseorang meninggalkan dosanya, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan.
Namun, apabila ia kembali melakukan dosa, noda tersebut akan semakin bertambah hingga menutupi hatinya.
Hadis ini mengingatkan agar seorang Muslim tidak meremehkan dosa, baik yang besar maupun yang kecil.
Sebab, maksiat yang terus dilakukan tanpa pertobatan dapat menjadikan seseorang semakin jauh dari ketaatan.
Karena itu, hendaknya setiap Muslim memperbanyak istigfar, menyesali dosa-dosa yang pernah dilakukan, dan bersungguh-sungguh meninggalkan kemaksiatan.
Penyebab keempat adalah al-inghimas fid dunya, yaitu terlalu tenggelam dalam urusan kehidupan dunia hingga melupakan akhirat.
Mencari nafkah, bekerja, dan memenuhi kebutuhan keluarga bukanlah perkara yang tercela selama dilakukan dengan cara yang dibenarkan syariat.
Namun, kesibukan dunia dapat menjadi sebab kelalaian apabila membuat seseorang meninggalkan kewajiban dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
“Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an)?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Dalam kelanjutan ayat tersebut, Allah memperingatkan agar orang-orang beriman tidak menyerupai sebagian umat terdahulu yang melalui masa panjang sehingga hati mereka menjadi keras.
Peringatan ini mengajak setiap Muslim untuk bermuhasabah.
Jangan sampai bertambahnya usia justru menjadikan seseorang semakin jauh dari Allah.
Jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.
Dunia hanyalah tempat sementara untuk beramal, sedangkan akhirat merupakan tempat manusia menerima balasan atas perbuatannya.
Bagaimana Cara Melembutkan Hati agar Mudah Mengingat Allah?
Mengetahui penyebab kerasnya hati hendaknya mendorong seorang Muslim untuk segera memperbaiki diri.
Beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak zikir, membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, menjaga salat lima waktu, meninggalkan kemaksiatan, serta memperbanyak tobat dan istigfar.
Seorang Muslim juga hendaknya membiasakan diri melakukan muhasabah, yaitu mengevaluasi amal dan mengingat bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mengingat kematian, keadaan alam kubur, dan kehidupan akhirat dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.
Di samping itu, seorang hamba hendaknya memperbanyak doa agar Allah menjaga dan melembutkan hatinya.
Sebab, manusia tidak dapat menjaga keimanan dan ketakwaannya tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perlu dipahami bahwa kelembutan hati tidak semata-mata diukur dari banyaknya air mata yang keluar. Tidak semua orang mudah menangis secara lahiriah.
Hal yang terpenting adalah hadirnya rasa takut kepada Allah, ketundukan terhadap kebenaran, penyesalan atas dosa, serta kesungguhan untuk memperbaiki amal.
Tangisan karena Allah merupakan keutamaan yang besar, sedangkan ketaatan merupakan buah nyata dari hati yang tunduk kepada-Nya.
Penutup: Memohon Hati yang Lembut dan Takut kepada Allah
Menangis karena Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu tanda kelembutan hati dan keimanan seorang hamba.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan ketika beliau menangis mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Para sahabat juga menunjukkan kelembutan hati ketika mengingat kematian, alam kubur, dan kehidupan akhirat.
Semua itu menjadi pengingat bagi kita agar senantiasa menjaga kebersihan hati.
Jangan sampai hati menjadi keras karena lalai dari mengingat Allah, meremehkan kewajiban, banyak melakukan maksiat, atau terlalu tenggelam dalam kehidupan dunia.
Marilah kita memperbanyak amal saleh, menjaga ibadah wajib, meninggalkan dosa-dosa, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca dan mentadaburi Al-Qur’an.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki hati lembut, mudah menerima nasihat, dan senantiasa takut kepada-Nya.
Kita juga memohon kepada Allah agar Al-Qur’an dijadikan sebagai penyejuk hati, cahaya kehidupan, penghilang kesedihan, dan petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf: 23)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita, melembutkan hati kita, dan memberikan keistiqamahan dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Artikel ini disarikan dan disunting dari materi khutbah Jumat bertema “Keutamaan Menangis karena Allah” untuk publikasi Masjid Urwah Al-Bariqi.