Pemateri : Ustadz Sahrul Abu Yahya
Jadikan Al-Qur’an Teman Setia di Dunia, Niscaya Ia Menjadi Penolong di Akhirat
Khutbah Jumat | Masjid Urwah Al-Bariqi
Di dunia, kita mencari teman yang setia ketika menghadapi kesulitan. Namun, pernahkah kita memikirkan siapa yang akan menemani dan menolong kita ketika seluruh manusia sibuk dengan urusannya masing-masing pada hari kiamat?
Setiap manusia membutuhkan teman dalam menjalani kehidupan. Kita menginginkan sahabat yang tidak hanya hadir ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga tetap peduli saat kita tertimpa musibah, mengalami kesulitan, atau berada dalam kesempitan.
Namun, ada satu teman yang jauh lebih berharga daripada persahabatan duniawi. Teman yang dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah ketika manusia menghadapi dahsyatnya hari kiamat.
Teman itu adalah Al-Qur’an.
Inilah pesan penting yang disampaikan dalam khutbah Jumat tentang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia, pedoman hidup, dan pemberi syafaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tujuan Hidup Manusia Adalah Beribadah kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tujuan utama penciptaan manusia dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia bukan sekadar untuk bekerja, mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, atau menikmati kesenangan dunia.
Tujuan utama kehidupan adalah beribadah dan mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sayangnya, tidak sedikit manusia yang begitu sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan tujuan penciptaannya.
Kita memiliki waktu untuk bekerja berjam-jam, menikmati hiburan, menggunakan telepon genggam, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Namun, berapa banyak waktu yang benar-benar kita sisihkan untuk membaca Al-Qur’an, mempelajari agama, dan mendekatkan diri kepada Allah?
Berapa banyak pula harta yang kita sisihkan untuk bersedekah dan berinfak di jalan-Nya?
Pertanyaan-pertanyaan ini patut menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.
Jangan sampai kita menjadikan ibadah sebagai aktivitas sampingan yang hanya dilakukan ketika ada waktu luang.
Padahal, seluruh kehidupan seorang muslim seharusnya dipersembahkan untuk Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Dengan demikian, aktivitas duniawi pun hendaknya dijalani sesuai tuntunan Allah dan diniatkan untuk mencari keridaan-Nya.
Ketika Sahabat dan Keluarga Tidak Dapat Menolong di Hari Kiamat
Dalam kehidupan dunia, kesetiaan seorang sahabat sering kali terlihat ketika kita menghadapi kesulitan.
Teman sejati bukan hanya orang yang datang ketika kita memiliki harta, kedudukan, atau berada dalam keadaan bahagia.
Teman sejati adalah mereka yang tetap peduli ketika kita sakit, mengalami musibah, atau menghadapi kesempitan.
Akan tetapi, sebesar apa pun kesulitan di dunia, semuanya memiliki batas. Kesulitan dunia akan berakhir, paling lambat ketika kehidupan seseorang berakhir.
Berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal.
Pada hari kiamat, manusia akan menghadapi keadaan yang begitu dahsyat. Setiap orang disibukkan dengan urusannya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, serta dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)
Bayangkan keadaan tersebut.
Orang-orang yang begitu dekat dengan kita selama hidup di dunia pun disibukkan dengan urusan masing-masing.
Setiap manusia mengkhawatirkan nasibnya ketika menghadapi hisab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apakah amalnya diterima? Apakah dosanya diampuni? Apakah dirinya termasuk orang-orang yang mendapatkan rahmat dan keselamatan?
Di tengah keadaan yang menegangkan itu, terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang selama hidupnya dekat dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an Akan Memberikan Syafaat kepada Pembacanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim No. 804)
Hadis ini menunjukkan salah satu keutamaan besar Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan hanya bacaan yang mendatangkan pahala ketika dilantunkan. Dengan izin Allah, Al-Qur’an juga akan menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengannya.
Dalam hadis lain dijelaskan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat.
Al-Qur’an akan mengatakan bahwa ia telah menghalangi hamba tersebut dari tidur pada malam hari, sehingga ia memohon izin kepada Allah untuk memberikan syafaat kepadanya.
(HR. Ahmad, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma)
Betapa beruntungnya orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupannya.
Ketika di dunia mereka menyediakan waktu untuk membacanya, mempelajari maknanya, dan mengamalkan petunjuknya, maka di akhirat mereka berharap mendapatkan syafaat Al-Qur’an dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an bukanlah perkara kecil.
Ia merupakan salah satu bekal berharga untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.
Apa Makna Menjadikan Al-Qur’an sebagai Teman Setia?
Menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia tidak cukup hanya dengan menyimpan mushaf di rumah atau membacanya pada waktu-waktu tertentu.
Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan seorang muslim.
Langkah pertama adalah membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari.
Tidak harus langsung membaca dalam jumlah banyak. Mulailah sesuai kemampuan, kemudian tingkatkan secara bertahap.
Yang terpenting adalah menjaga kedekatan dengan Kalamullah dan tidak membiarkan hari-hari berlalu tanpa berinteraksi dengannya.
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan dan dipahami.
Dengan mempelajari tafsir dan kandungan ayat-ayatnya melalui sumber yang tepercaya, seorang muslim dapat mengetahui perintah Allah, larangan-Nya, serta berbagai petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Semakin baik pemahaman seseorang terhadap Al-Qur’an, semakin besar kesempatan baginya untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Inilah tujuan penting dari membaca dan memahami Al-Qur’an.
Ilmu yang diperoleh hendaknya diwujudkan dalam amal nyata.
Ketika Al-Qur’an memerintahkan kejujuran, seorang muslim berusaha berlaku jujur.
Ketika Al-Qur’an memerintahkan salat, ia berusaha menjaganya.
Ketika Al-Qur’an melarang kezaliman, ia berusaha menjauhinya.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya hadir dalam bacaan, tetapi juga tercermin dalam akhlak, ibadah, dan kehidupan sehari-hari.
Jadikan Al-Qur’an sebagai Pemimpin, Bukan Sesuatu yang Diabaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma:
الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ
“Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pembela yang dibenarkan. Barang siapa menjadikannya di depannya, Al-Qur’an akan menuntunnya menuju surga. Dan barang siapa menjadikannya di belakang punggungnya, Al-Qur’an akan menggiringnya menuju neraka.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi; terdapat pembahasan ulama mengenai jalur periwayatannya.)
Apa makna menjadikan Al-Qur’an berada di depan kita?
Maknanya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan.
Kita berusaha mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya, serta menjadikan petunjuknya sebagai dasar dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Sebaliknya, menjadikan Al-Qur’an di belakang punggung berarti mengabaikan petunjuknya, tidak memedulikan ajarannya, dan enggan mengamalkan kandungannya.
Oleh karena itu, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an.
Jangan sampai mushaf Al-Qur’an hanya menjadi pajangan di rumah, sementara petunjuknya tidak hadir dalam kehidupan kita.
Mulailah Mendekat kepada Al-Qur’an Hari Ini
Kesibukan dunia tidak akan pernah benar-benar selesai.
Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan berbagai urusan yang menyita perhatian.
Namun, jangan sampai seluruh waktu kita habis untuk dunia, sementara bekal akhirat justru terlupakan.
Mulailah menyediakan waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an setiap hari.
Bagi yang belum lancar membaca, teruslah belajar.
Bagi yang sudah lancar, tingkatkan kualitas bacaan dan pemahaman.
Bagi yang telah mempelajari kandungannya, berusahalah mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam kehidupan, bukan sekadar bacaan yang dibuka sesekali.
Sebab, teman sejati bukan hanya yang menemani kita ketika hidup di dunia, tetapi juga yang menjadi sebab datangnya pertolongan Allah ketika kita sangat membutuhkannya di akhirat.
Penutup: Semoga Al-Qur’an Menjadi Syafaat bagi Kita
Al-Qur’an merupakan petunjuk, rahmat, dan sumber keberkahan bagi orang-orang yang beriman.
Beruntunglah mereka yang mengisi kehidupannya dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Kalamullah.
Sebaliknya, sungguh merugi apabila seseorang menghabiskan seluruh kehidupannya untuk mengejar dunia, tetapi mengabaikan petunjuk Allah.
Marilah kita memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an mulai hari ini.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai Al-Qur’an, istiqamah membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkan petunjuknya hingga akhir hayat.
Semoga Al-Qur’an menjadi cahaya dalam kehidupan kita, petunjuk dalam setiap langkah, serta pemberi syafaat dengan izin Allah pada hari kiamat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Referensi dalil:
Masjid Urwah Al-Bariqi
Menghidupkan ilmu, menguatkan iman, dan mengamalkan Al-Qur’an serta Sunnah.