Sabtu, 26 September 2026

Terbit : Jum, 25 September 2026

Apa Pun Yang Menimpa Kita Telah Dituliskan Dalam Al-Kitab

Oleh : Muhamad Toshio khutbah Jum'at
Apa Pun Yang Menimpa Kita Telah Dituliskan Dalam Al-Kitab

Pemateri : Ustadz Abu Abdillah Kholidin, BSh., Mpdi

Kehidupan dunia tidak pernah lepas dari nikmat dan ujian. Ada masa lapang, ada masa sempit. Ada kesehatan, ada sakit. Ada kemudahan, ada kesulitan. Namun bagi seorang Muslim, semua yang terjadi tidak pernah berada di luar ilmu dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa pun yang menimpa kita telah Allah tuliskan di Al-Kitab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada manusia nikmat yang begitu banyak. Bahkan jika dibandingkan dengan berbagai ujian yang menimpa kita, nikmat Allah jauh lebih banyak, lebih besar, dan lebih sering kita rasakan.

Sayangnya, manusia terkadang lebih mudah mengingat musibah daripada mengingat nikmat.

Ketika sakit, kita mengingat sakit itu. Ketika mengalami kesulitan ekonomi, kita memikirkannya berulang kali. Ketika ada masalah keluarga atau pekerjaan, pikiran kita dipenuhi olehnya.

Tetapi berapa sering kita menghitung nikmat yang Allah berikan setiap hari?

Nikmat Allah Tidak Akan Mampu Kita Hitung

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wa ātākum min kulli mā sa’altumūh, wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā.”

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

(QS. Ibrahim: 34)

Apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini Allah berikan. Bahkan banyak perkara yang tidak pernah kita minta secara langsung, tetapi Allah tetap menganugerahkannya kepada kita.

Kita diberi kemampuan bernapas, melihat, mendengar, berjalan, bekerja, beribadah, menikmati makanan, berkumpul bersama keluarga, serta berbagai nikmat lahir dan batin lainnya.

Sebagian nikmat bahkan baru kita sadari setelah melihat orang lain kehilangannya.

Karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang terus menghitung musibah tetapi melupakan nikmat.

Ketika mendapatkan nikmat, bersyukurlah.

Ketika mendapatkan ujian, bersabarlah.

Segala Sesuatu Berjalan dengan Ilmu Allah

Sesungguhnya kehidupan dunia telah Allah atur dengan sebaik-baiknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan kadar. Tidak ada satu perkara pun yang luput dari ilmu-Nya.

Apa yang terjadi hari ini, apa yang telah terjadi kemarin, dan apa yang akan terjadi kemudian semuanya berada dalam ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, seorang Muslim memiliki pegangan yang sangat kuat ketika menghadapi ujian kehidupan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Qul lan yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā.”

“Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tuliskan bagi kami.”

(QS. At-Taubah: 51)

Inilah keyakinan yang seharusnya tertanam dalam hati seorang Muslim.

Apa pun yang menimpa kita tidak terjadi secara sia-sia dan tidak berada di luar pengetahuan Allah.

Masalah ekonomi, sakit, persoalan keluarga, kesulitan pekerjaan, kehilangan, maupun berbagai ujian lainnya telah berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Keyakinan ini bukan alasan untuk berhenti berusaha. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar, berdoa, bekerja, mencari jalan keluar, dan melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.

Namun setelah berusaha, hatinya berserah diri kepada Allah.

Apa Pun yang Menimpa Kita Telah Allah Tuliskan

Ketika seseorang benar-benar meyakini bahwa apa yang menimpanya telah Allah tuliskan, cara pandangnya terhadap ujian akan berubah.

Ia tidak mudah hancur karena perkara dunia.

Ia mengetahui bahwa dunia memang merupakan tempat ujian.

Saat mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur.

Saat mendapatkan kesulitan, ia berusaha untuk bersabar.

Saat melakukan kesalahan, ia bertobat.

Dan ketika menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah salah satu kekuatan seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.

Bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena ia mengetahui kepada siapa seluruh urusan kehidupan ini kembali.

Dunia Ini Hanya Sebentar

Kita juga perlu menyadari bahwa kehidupan dunia bukan kehidupan yang kekal.

Generasi demi generasi telah berlalu.

Orang tua kita, kakek dan nenek kita, serta generasi-generasi sebelum kita telah menjalani bagian mereka di dunia. Kita sekarang menjalani bagian kita, dan suatu saat kita pun akan digantikan oleh generasi berikutnya.

Tidak ada seorang pun yang tinggal selamanya di dunia.

Umur manusia sangat terbatas.

Karena itulah para ulama mengingatkan bahwa dunia merupakan tempat beramal.

Hari ini ada kesempatan untuk beramal, sedangkan kelak akan datang hari perhitungan.

Selama masih hidup, kita masih dapat memperbaiki diri.

Kita masih dapat bertobat.

Kita masih dapat menjaga salat.

Kita masih dapat bersedekah.

Kita masih dapat berbakti kepada orang tua.

Kita masih dapat meminta maaf.

Kita masih dapat meninggalkan kemaksiatan.

Dan kita masih dapat menambah amal saleh.

Namun kesempatan itu tidak berlangsung selamanya.

Akan Datang Hari Perhitungan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan tentang datangnya hari kiamat.

Ketika sangkakala ditiup, tatanan dunia yang selama ini kita kenal akan berakhir. Bumi dan gunung dihancurkan, langit terbelah, dan manusia dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:

“Yauma’idzin tu‘raḍūna lā takhfā minkum khāfiyah.”

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi.”

(QS. Al-Haqqah: 18)

Pada hari itu manusia menerima catatan amalnya.

Ada orang-orang yang menerima kitab amal dengan tangan kanan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Fa ammā man ūtiya kitābahū biyamīnihī fa yaqūlu hāumuqraū kitābiyah.”

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku ini.’”

(QS. Al-Haqqah: 19)

Mereka mendapatkan kebahagiaan karena apa yang dahulu mereka kerjakan selama kehidupan dunia.

Namun ada pula manusia yang menerima catatan amal dari sebelah kiri dan menyesali apa yang telah dilakukannya.

Semua itu mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia memiliki tujuan.

Kita tidak diciptakan hanya untuk mengejar dunia, kemudian selesai begitu saja.

Ada kehidupan setelah kehidupan ini.

Jadikan Ujian sebagai Jalan Mendekat kepada Allah

Ujian yang menimpa manusia bermacam-macam.

Ada yang diuji dalam masalah ekonomi.

Ada yang diuji dengan penyakit.

Ada yang diuji melalui keluarganya.

Ada yang diuji dalam pekerjaan.

Ada pula yang diuji dengan kehilangan sesuatu yang dicintainya.

Ketika ujian tersebut datang, ingatlah:

“Lan yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā.”

Tidak akan menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagi kita.

Seorang Muslim berusaha untuk sabar menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan larangan-Nya, dan sabar menghadapi musibah yang menimpa dirinya maupun keluarganya.

Kesabaran itu kelak menjadi bagian dari bekal ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadikan Sisa Umur sebagai Ghanimah

Kita tidak mengetahui berapa banyak umur yang masih Allah berikan.

Karena itu, hari-hari yang tersisa merupakan ghanimah, kesempatan berharga yang jangan sampai disia-siakan.

Jadikan hari-hari tersebut sebagai hari yang menambah kebaikan.

Jadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk memberatkan timbangan amal saleh.

Jangan sampai sisa umur justru menjadi hari-hari yang merugikan diri kita sendiri.

Bertakwalah kepada Allah di mana pun kita berada.

Di tempat kerja.

Di rumah.

Di tengah keluarga.

Di lingkungan tempat tinggal.

Ketika bersama orang lain maupun ketika sendirian.

Sebab dunia bukan tempat tinggal untuk selama-lamanya.

Persiapkan Bekal Sebelum Kembali kepada Allah

Kehidupan dunia akan berakhir.

Harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan.

Rumah yang dibangun akan ditinggalkan.

Pekerjaan dan jabatan akan berakhir.

Generasi kita pun suatu saat akan digantikan oleh generasi berikutnya.

Karena itu, yang perlu kita persiapkan bukan hanya masa depan dunia, tetapi juga masa depan yang jauh lebih panjang: kehidupan setelah kita meninggalkan dunia ini.

Apa pun yang menimpa kita telah Allah tuliskan di Al-Kitab. Maka jangan sampai musibah dunia membuat kita kehilangan arah menuju akhirat.

Syukurilah nikmat.

Bersabarlah menghadapi ujian.

Teruslah berikhtiar.

Perbanyaklah amal saleh.

Dan jadikan setiap hari yang masih Allah berikan sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika menghadapi musibah, istiqamah dalam ketakwaan, serta menghadap kepada-Nya dalam keadaan Allah ridha kepada kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Urwah Al-Bariqi Cimandala
Galleria Vivo Mall Lt. UG Jl. Raya Jakarta-Bogor No.Km. 50, Cimandala, Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710
  • Donasi untuk masjid dapat disalurkan ke Rekening BSI 7355994389 a.n Masjid Urwah Al-Bariqi