Sabtu, 18 Juli 2026

Terbit : Jum, 17 Juli 2026

Kisah Doa Para Nabi

Oleh : Muhamad Toshio khutbah Jum'at
Kisah Doa Para Nabi

Pemateri : Ustadz Muhamad Refsanjani Fahreza, S.H., M.H

Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada pentingnya memiliki sifat tadharru atau merendahkan diri dan melepas kesombongan di hadapan Allah Ta’ala ketika memanjatkan doa. Khotib mengajak jamaah untuk meneladani perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam serta para nabi terdahulu yang meraih pertolongan besar dari Allah Ta’ala justru di saat-saat paling genting dan penuh keterbatasan fisik.

Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:

1. Pelajaran dari Kemenangan Perang Badar (Tahun 2 Hijriyah)

* Momentum Yaumul Furqon: Perang Badar melibatkan 317 pasukan muslim melawan sekitar 1.000 pasukan kafir Quraisy dengan persenjataan lengkap di bawah pimpinan Abu Jahal. Secara kalkulasi manusia, jumlah ini sangat tidak seimbang karena niat awal kaum muslimin hanya untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan guna mengambil kembali harta mereka yang dirampas di Mekkah.

* Dahsyatnya Doa Nabi: Di tengah kegentingan, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam shalat dan berdoa di dalam tenda didampingi Abu Bakar radhiyallahu anhu. Beliau mengangkat tangan begitu tinggi hingga selendangnya terjatuh, seraya meratap memohon janji Allah Ta’ala agar kelompok kecil umat Islam ini tidak binasa.

* Pertolongan Malaikat: Merujuk Surah Al-Anfal ayat 9, Allah Ta’ala mengabulkan doa tersebut dengan mengirimkan bala bantuan 1.000 malaikat yang berbondong-bondong memenangkan pertempuran. Allah Ta’ala mengingatkan dalam Surah Ali Imran ayat 123 bahwa pertolongan itu datang saat kondisi kaum muslimin lemah dan sedikit (adzillah) agar mereka bersyukur.

2. Kisah Keteladanan Para Nabi dalam Kondisi Genting

Khotib merinci tiga kisah nabi terdahulu yang dikabulkan doanya karena kepasrahan dan kerendahan hati:

* Nabi Musa Alaihissalam: Setelah tidak sengaja menewaskan seorang warga Mesir, beliau menjadi buron Firaun dan kabur kelaparan sejauh ratusan kilometer ke Madyan tanpa bekal hingga harus memakan daun-daunan. Setelah menolong dua putri orang tua bijak mengangkat batu sumur yang besar, beliau berteduh dan berdoa mengakui kefakirannya (Robbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir). Allah Ta’ala langsung mengabulkan doa tersebut dengan memberikan keamanan, pekerjaan, tempat tinggal, serta menjodohkannya dengan wanita shaleh.

* Nabi Ayub Alaihissalam: Diuji dengan penyakit kulit dan musibah yang sangat lama (antara 7 hingga 13 tahun), kehilangan seluruh harta, perkebunan, dan 13 anaknya. Melalui doa yang penuh kerendahan hati (Anni massaniyad dhurru wa anta arhamur rohimin), Allah Ta’ala memulihkan kesehatannya, mengembalikan harta dua kali lipat, serta mengaruniakan 26 anak dari istrinya yang dijadikan muda kembali.

* Nabi Yunus Alaihissalam: Mengalami masa sulit akibat meninggalkan umatnya karena jengkel, hingga akhirnya ditelan oleh ikan paus. Di dalam tiga kegelapan (perut ikan, malam hari, dan lautan dalam), beliau merendahkan diri dan mengakui dosanya melalui doa (La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzolimin), hingga Allah Ta’ala menyelamatkannya ke permukaan.

3. Dua Poin Utama Penyebab Terkabulnya Doa

Berdasarkan intisari kisah-kisah di atas, khotib menyimpulkan dua variabel utama penentu ijabah doa:

* Merendahkan Diri dan Mengakui Kelemahan: Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sangat faqir atau butuh kepada Allah Ta’ala (Surah Fatir: 15). Bentuk perendahan diri paling tinggi adalah saat sujud, di mana bagian tubuh paling mulia (wajah) ditempelkan ke tanah. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan posisi sujud adalah jarak terdekat antara hamba dengan Rabb-nya, sehingga umat Islam diperintahkan untuk bersungguh-sungguh memperbanyak doa saat sujud.

* Menghilangkan Kesombongan: Doa akan mudah dikabulkan saat atribut kesombongan duniawi dilepaskan. Hal ini menjadi alasan mengapa doa orang yang sedang safar sangat mustajab, karena mereka berada dalam kondisi rambut semrawut, berdebu, dan jauh dari kenyamanan rumah. Prinsip ini juga terlihat pada jamaah haji di Padang Arafah yang melepas pakaian mewahnya demi menggunakan kain ihram yang setara. Allah Ta’ala membanggakan hambanya yang berdebu tersebut di hadapan malaikat dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Penutup:

Kekuatan seorang mukmin terletak pada pengakuannya bahwa dirinya lemah dan Allah Ta’ala Maha Kuat. Mari kita buang jauh-jauh rasa sombong dari dalam hati dan manfaatkan sisa kehidupan ini untuk terus mengetuk pintu langit dengan doa-doa yang tulus dan penuh kerendahan diri, agar Allah Ta’ala memudahkan segala urusan kita di dunia maupun akhirat.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Urwah Al-Bariqi Cimandala
Galleria Vivo Mall Lt. UG Jl. Raya Jakarta-Bogor No.Km. 50, Cimandala, Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710
  • Donasi untuk masjid dapat disalurkan ke Rekening BSI 7355994389 a.n Masjid Urwah Al-Bariqi