Sabtu, 20 Juni 2026

Terbit : Jum, 19 Juni 2026

Keseimbangan Antara Dunia, Ibadah Dan Keluarga

Oleh : Muhamad Toshio khutbah Jum'at
Keseimbangan Antara Dunia, Ibadah Dan Keluarga

Pemateri : Ustadz Baharudin Yusuf, Lc.

Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada konsep keadilan dan keseimbangan hidup (Al-Mizan) bagi seorang Muslim. Khotib mengajak jamaah untuk menjadi umat pertengahan (Umatan Wasathan) yang mampu memadukan tanggung jawab spiritual kepada Allah Ta’ala dengan tanggung jawab sosial terhadap keluarga, pekerjaan, dan diri sendiri secara objektif.

Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:

1. Hakikat Al-Mizan dan Umat Pertengahan

* Makna Keseimbangan Semesta: Allah Ta’ala menciptakan ekosistem alam semesta (pergantian siang-malam, siklus air) dengan sempurna dan seimbang. Merujuk Surah Ar-Rahman ayat 7, Allah Ta’ala meletakkan Al-Mizan yang menurut Tafsir Al-Baghawi (mengutip Mujahid) bermakna keadilan atau keseimbangan.

* Karakter Kaum Muslimin: Sesuai Surah Al-Baqarah ayat 143, umat Islam didesain sebagai Umatan Wasathan (umat pertengahan). Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Baghawi menjelaskan makna ini sebagai Ahluddin yang adil dan objektif, berada di pertengahan antara sikap berlebih-lebihan (Ghuluw) dan sikap melalaikan (Tafsir).

2. Teguran terhadap Sikap Ekstrem dalam Ibadah

* Kisah Tiga Sahabat: Khotib menceritakan riwayat tiga sahabat yang berniat melakukan ibadah secara ekstrem demi mengejar ketertinggalan (tidak tidur untuk salat malam, puasa sepanjang tahun tanpa berbuka, dan enggan menikah).

* Respons Tegas Nabi: Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang keras sikap tersebut dan menegaskan bahwa beliau sendiri salat dan tidur, puasa dan berbuka, serta menikahi wanita. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

* Esensi Teguran: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak mencela ibadahnya, melainkan mencela ketidakseimbangan mereka. Allah Ta’ala tidak menghendaki ibadah full yang mengorbankan nafkah, pekerjaan, dan hak keluarga.

3. Konsep “Saa’atan-Saa’ah” (Ada Waktunya)

* Kegundahan Hanzalah: Sahabat Hanzalah merasa munafik karena hatinya sangat khusyuk mengingat surga-neraka saat bersama Nabi, namun merasa imannya melemah ketika pulang ke rumah untuk mengurusi aset dunia, istri, dan anak.

* Jawaban Bijak Nabi: Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam meluruskan dengan kalimat “Saa’atan-Saa’ah” (Ada waktunya, wahai Hanzalah). Manusia tidak dituntut konstan 100% dalam kondisi ritual formal. Ada waktu khusus untuk ibadah, untuk keluarga, pekerjaan, hak badan (istirahat), dan sosial.

4. Larangan Ekstrem dalam Urusan Dunia

* Celaan bagi yang Materialistis: Di sisi lain, khutbah ini mengkritik keras mayoritas manusia zaman sekarang yang justru ekstrem pada urusan dunia dan meninggalkan akhirat (Surah Al-Qiyamah: 20-21).

* Kedudukan Harta dan Anak: Merujuk Surah Al-Munafiqun ayat 9, Allah Ta’ala tidak menyebut harta dan anak sebagai keburukan. Islam hanya melarang jika kedua hal tersebut melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala. Jika dikelola dengan benar, harta dan anak justru menjadi jalan terbaik menuju surga.

5. Teladan Keseimbangan Rumah Tangga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

* Pribadi yang Mandiri dan Sederhana: Mengutip kesaksian Ummul Mukminin Aisyah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam di rumah selalu membantu urusan keluarga (khidmah). Beliau memperbaiki sendiri tali sandalnya yang copot dan menambal sendiri bajunya yang robek.

* Profesional Tanpa Membawa Beban Luar ke Rumah: Meskipun memikul problematika dakwah dan kepemimpinan negara yang sangat rumit, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak membawa beban tersebut ke rumah. Beliau tetap menjaga hak biologisnya (seperti tidur siang/Qailulah), menjadi figur yang paling perhatian, dan paling romantis bagi keluarganya.

Penutup:

Dunia modern sering kali menekan manusia untuk berat sebelah pada satu sisi. Mari kita penuhi hak Allah Ta’ala melalui ibadah, dan penuhi pula hak keluarga serta hak badan kita dengan adil. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk hidup seimbang dan mengumpulkan kita semua di surga-Nya.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Urwah Al-Bariqi Cimandala
Galleria Vivo Mall Lt. UG Jl. Raya Jakarta-Bogor No.Km. 50, Cimandala, Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710
  • Donasi untuk masjid dapat disalurkan ke Rekening BSI 7355994389 a.n Masjid Urwah Al-Bariqi