Pemateri : Ustadz Abdul Qohar Abu Nawwaf
Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada hakikat bekerja sebagai bagian dari ibadah dan perbekalan hidup bagi seorang Muslim. Di tengah padatnya aktivitas duniawi, seorang mukmin sejati tetap menomorsatukan panggilan Allah Ta’ala dan tidak melalaikan kewajiban utamanya, termasuk mendirikan salat tepat waktu.
Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:
1. Karakteristik Mukmin di Tengah Kesibukan
- Panggilan Allah Ta’ala yang Utama: Ketika azan berkumandang, seorang Muslim yang sibuk dengan aktivitasnya akan segera meninggalkan urusan duniawi untuk mendatangi rumah Allah Ta’ala sebagai wujud tinggi dan murninya ubudiyah kepada-Nya.
- Memakmurkan Bumi: Mengacu pada Surah Al-Mulk ayat 15, Allah Ta’ala menjadikan bumi mudah diinjak dan disinggahi, serta memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berjalan di muka bumi serta mencari rezeki yang halal dan baik sebagai bekal ibadah.
2. Kedudukan Bekerja dalam Timbangan Syariat
- Bukan Sekadar Aktivitas Fisik: Mencari nafkah dan harta bukanlah aktivitas melelahkan yang sia-sia, melainkan wasilah untuk menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta kepada makhluk.
- Pujian atas Usaha Sendiri: Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam memuji orang yang makan dari hasil usaha tangannya sendiri (min ‘amali yadaih).
- Pahala Infak Keluarga: Setiap pengeluaran harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan istri dinilai sebagai pahala besar di sisi Allah Ta’ala. Mengutip sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, satu dinar yang dikeluarkan untuk menafkahi keluarga memiliki pahala yang lebih agung dibandingkan dinar yang diinfakkan untuk jihad fisabilillah, memerdekakan budak, atau sedekah kepada orang miskin.
3. Standar dan Adab Bekerja bagi Seorang Muslim
- Agar aktivitas bekerja bernilai ibadah dan mendatangkan pahala yang melimpah (sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullahu ta’ala), seorang pekerja harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
- Meluruskan Niat: Bertujuan mencari keridhaan Allah Ta’ala, menghindari sifat meminta-minta, serta membiayai ketaatan seperti haji dan umrah.
- Memastikan Kehalalan Usaha: Berada di atas jalur ikhtiar yang halal, karena pintu yang halal jauh lebih banyak dan mudah. Jangan tergoda melakukan hal haram betapapun besar kesulitan yang dihadapi.
- Bersifat Amanah dan Profesional: Memiliki integritas tinggi, jujur, serta totalitas dalam menyelesaikan pekerjaan, sejalan dengan sifat pekerja ideal yang kuat dan dapat dipercaya.
- Menjaga Salat Lima Waktu: Jabatan tinggi atau gaji besar tidak boleh menjadi alasan untuk dengan sengaja meninggalkan kewajiban salat di tengah kesibukan bekerja.
- Membasahi Lisan dengan Zikir: Menyelingi waktu kerja dengan mengingat Allah Ta’ala melalui tasbih, tahmid, dan doa.
- Bersabar dalam Ujian: Menghadapi setiap kesulitan atau cobaan di tempat kerja dengan kesabaran, karena hal tersebut menjadi wadah untuk mendulang pahala besar dari Allah Ta’ala.
Penutup:
Seorang suami yang keluar rumah dengan niat menunaikan kewajiban, menjaga kehormatan keluarganya, dan melindungi mereka dari azab Allah Ta’ala sedang menempuh jihad yang agung. Mari kita luruskan niat dalam bekerja dan jadikan setiap usaha kita sebagai ladang amal saleh demi meraih kebaikan di dunia dan akhirat.