Pemateri : Ustadz Rio Turnadi, M.Sc.
Mencintai Rasulullah ﷺ dengan Menjadikan Sunnah sebagai Pedoman Hidup
Kecintaan kepada Allah adalah kecintaan yang paling utama. Setelah itu, seorang muslim menempatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ di atas kecintaan kepada manusia lainnya. Kecintaan tersebut tidak cukup hanya dengan kekaguman, tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah dan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam setiap aspek kehidupan.
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi berbagai informasi, tokoh yang viral, dan figur yang silih berganti menjadi panutan, seorang muslim perlu kembali bertanya: Siapa sebenarnya yang paling layak menjadi teladan dalam kehidupan kita?
Allah سبحانه وتعالى telah memberikan jawaban yang jelas. Rasulullah ﷺ adalah uswatun hasanah, teladan yang baik bagi orang-orang beriman.
Urutan Kecintaan dalam Islam
Islam mengajarkan bahwa kecintaan seorang muslim bukanlah sesuatu yang dibiarkan tanpa arah. Ada urutan yang harus dijaga.
Kecintaan yang paling utama adalah kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Setelah itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Barulah kemudian kecintaan kepada manusia lainnya: orang tua, pasangan, anak, keluarga, dan manusia secara umum.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dalam keimanan seorang muslim.
Namun, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan haru ketika mendengar kisah beliau. Bukan pula sekadar rasa kagum terhadap akhlak dan perjuangannya.
Kecintaan yang benar harus melahirkan ketaatan.
Bukti Mencintai Allah adalah Mengikuti Rasulullah ﷺ
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kecintaan kepada Allah: mengikuti Rasulullah ﷺ.
Karena itu, mencintai Allah bukan hanya dengan mengaku mencintai-Nya. Kecintaan itu harus terlihat dalam ketaatan terhadap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana tuntunan yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Langkah awalnya adalah mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, kemudian menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Demikian pula dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Kita perlu mengenal beliau terlebih dahulu. Salah satu jalannya adalah mempelajari sirah nabawiyah: kehidupan, perjuangan, akhlak, kepemimpinan, dan cara beliau menghadapi berbagai persoalan.
Rasulullah ﷺ Bukan Sekadar Kisah untuk Dikagumi
Mempelajari sirah Rasulullah ﷺ seharusnya menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kekaguman.
Ketika kita membaca kisah orang hebat, mungkin yang muncul adalah rasa kagum. Tetapi ketika kita membaca sirah Rasulullah ﷺ, mendengarkan kajian tentang beliau, atau mempelajari kehidupan para sahabat, tujuan akhirnya bukan hanya agar kita mengetahui kisah tersebut.
Sirah harus menjadi ibrah.
Kisah kehidupan Rasulullah ﷺ harus menjadi bahan pelajaran yang kemudian kita bawa ke dalam kehidupan nyata.
Bagaimana Rasulullah ﷺ bersikap ketika menghadapi masalah?
Bagaimana beliau memperlakukan orang lain?
Bagaimana beliau memimpin?
Bagaimana beliau mendidik?
Bagaimana beliau bermuamalah?
Bagaimana beliau menjalani kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan sirah bukan sekadar bacaan, melainkan sumber pembentukan karakter.
Jadikan Pertanyaan “Apa Sunnahnya?” sebagai Kebiasaan
Salah satu cara sederhana untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai sumber rujukan dalam kehidupan adalah membiasakan satu pertanyaan:
“Apa sunnahnya?”
Ketika menghadapi suatu persoalan, jangan hanya bertanya, “Bagaimana orang lain melakukannya?” Tetapi tanyakan pula, “Bagaimana tuntunan Rasulullah ﷺ dalam perkara ini?”
Ketika berutang kepada teman, misalnya, kita bisa bertanya bagaimana Islam mengajarkan adab dalam utang-piutang.
Ketika orang tua meninggal dan meninggalkan harta, kita bertanya bagaimana Islam mengatur pembagian warisan.
Ketika menghadapi persoalan dalam keluarga, kita bertanya bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan teladan dalam kehidupan keluarga.
Ketika mendapat amanah untuk memimpin sebuah kelompok, kita bertanya bagaimana Rasulullah ﷺ menjalankan kepemimpinan.
Dengan kebiasaan ini, sunnah tidak berhenti sebagai teori yang kita dengarkan di masjid. Sunnah mulai hadir dalam keputusan-keputusan kecil maupun besar dalam kehidupan.
Menghidupkan Sunnah dari Hal-Hal Sederhana
Sering kali kita membayangkan bahwa mengikuti Rasulullah ﷺ harus selalu dimulai dari perkara besar.
Padahal, sunnah juga dapat dihidupkan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Di dalam keluarga, misalnya, orang tua dapat mengajarkan anak tentang adab makan: menggunakan tangan kanan dan mengambil makanan yang berada di dekatnya.
Orang tua juga dapat membiasakan anak mengetahui adab ketika masuk rumah, termasuk mendahulukan kaki kanan sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin tampak sederhana.
Namun, dari situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dapat tumbuh dalam diri anak-anak.
Anak tidak hanya mengenal Rasulullah ﷺ sebagai nama yang disebut dalam ceramah. Ia mulai mengenal Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang ajarannya hadir dalam kehidupan sehari-hari:
“Begini yang diajarkan Rasulullah.”
Kalimat sederhana tersebut, jika terus diulang dan diamalkan, dapat menanamkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sejak dini.
Sirah Rasulullah ﷺ Harus Masuk ke Setiap Aspek Kehidupan
Sirah tidak seharusnya hanya menjadi bahan ceramah di masjid.
Kajian tentang Rasulullah ﷺ tidak seharusnya berhenti ketika kajian selesai dan kita meninggalkan tempat duduk.
Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah ﷺ semestinya menjiwai kehidupan kita.
Bagi seseorang yang mendapat amanah sebagai pemimpin, ia dapat belajar dari kepemimpinan Rasulullah ﷺ.
Bagi orang tua, ia dapat belajar bagaimana Rasulullah ﷺ mendidik dan memperlakukan keluarga.
Bagi seorang pekerja, ia dapat menjadikan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah ﷺ sebagai pedoman dalam menjalankan amanah.
Bagi seseorang yang bermuamalah dengan orang lain, ia dapat menjadikan tuntunan Rasulullah ﷺ sebagai rujukan dalam bersikap.
Dengan demikian, Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi teladan dalam satu bidang kehidupan.
Beliau menjadi teladan dalam seluruh kehidupan.
Bagaimana Menyikapi Perkara-Perkara Baru?
Kehidupan terus berubah. Berbagai teknologi dan kebiasaan baru bermunculan.
Hari ini kita berhadapan dengan hal-hal yang dahulu tidak ditemukan pada zaman Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk kemampuan mengubah dan memanipulasi gambar menjadi bentuk visual yang bergerak.
Dalam menghadapi perkara-perkara baru seperti ini, seorang muslim perlu berhati-hati dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Pertanyaannya adalah: bagaimana kita menilai perkara tersebut berdasarkan tuntunan agama?
Dalam materi khutbah ini dijelaskan bahwa ketika menghadapi suatu perkara, perlu dibedakan setidaknya antara hal yang memiliki tuntunan yang jelas, hal yang dilarang, dan perkara yang tidak dibahas secara khusus.
Untuk sesuatu yang jelas diperintahkan, seorang muslim menjalankannya.
Untuk sesuatu yang jelas dilarang, seorang muslim meninggalkannya.
Adapun perkara yang tidak dibahas secara khusus, maka diperlukan sikap yang bijaksana dengan mempertimbangkan kebiasaan masyarakat dan kearifan lokal, serta tetap memperhatikan prinsip-prinsip agama.
Pesan pentingnya adalah: jangan sampai sesuatu hanya diikuti karena sedang viral.
Popularitas bukan ukuran kebenaran.
Apa yang banyak dilakukan manusia bukan otomatis menjadi sesuatu yang benar.
Seorang muslim perlu memiliki kebiasaan untuk memeriksa dan merujukkan perkara yang dihadapinya kepada tuntunan agama.
Di Zaman Banyak Figur, Rasulullah ﷺ Tetap Teladan Utama
Hari ini kita dapat melihat berbagai figur hanya melalui layar telepon.
Seseorang bisa menjadi terkenal dalam waktu singkat. Kehidupannya dilihat jutaan orang. Cara berbicara, berpakaian, berpikir, bahkan gaya hidupnya dapat ditiru oleh banyak orang.
Karena itu, seorang muslim perlu berhati-hati dalam menentukan siapa yang menjadi panutannya.
Figur yang viral belum tentu layak menjadi teladan.
Orang yang terkenal belum tentu memiliki akhlak yang patut ditiru.
Sebaliknya, Rasulullah ﷺ adalah teladan yang Allah سبحانه وتعالى tetapkan bagi orang-orang beriman.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
Maka, ketika kita mencari teladan dalam kehidupan, hendaknya kita kembali kepada Rasulullah ﷺ.
Ketika belajar tentang kepemimpinan, lihat bagaimana Rasulullah ﷺ memimpin.
Ketika belajar tentang keluarga, lihat bagaimana Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan keluarga.
Ketika belajar tentang akhlak, lihat bagaimana Rasulullah ﷺ berakhlak.
Ketika menghadapi persoalan kehidupan, tanyakan:
“Bagaimana Rasulullah ﷺ melakukannya?”
Dari Kagum Menjadi Mengikuti
Pada akhirnya, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada kekaguman.
Kita tidak cukup hanya mengetahui nama beliau.
Tidak cukup hanya membaca kisah perjuangan beliau.
Tidak cukup hanya merasa tersentuh ketika mendengar sirah beliau.
Kecintaan yang benar harus membawa kita kepada ittiba’—mengikuti tuntunan beliau.
Karena itu, mari kita jadikan Rasulullah ﷺ sebagai sumber rujukan dalam kehidupan.
Mari kita biasakan membaca sirah.
Mari kita ajarkan sirah kepada keluarga.
Mari kita hidupkan sunnah dari perkara-perkara sederhana.
Mari kita biasakan bertanya, “Apa sunnahnya?”
Dan ketika menemukan tuntunan Rasulullah ﷺ, mari kita berusaha mengamalkannya.
Semoga Allah سبحانه وتعالى menjadikan kita orang-orang yang benar-benar mencintai-Nya dan mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai sunnahnya, mengikuti petunjuknya, serta mampu menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah dalam seluruh aspek kehidupan.
Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Semoga Allah memberikan kita keteguhan untuk mengikuti jalan yang telah beliau ajarkan dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ di dalam kebaikan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.