Tiga Tanda Kebahagiaan Seorang Muslim
Ketika Mendapat Nikmat, Ia Bersyukur. Ketika Mendapat Ujian, Ia Bersabar. Ketika Berbuat Dosa, Ia Segera Beristighfar.
Setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang bahagia. Kita bekerja, belajar, mencari rezeki, membangun keluarga, dan melakukan berbagai macam usaha karena berharap kehidupan yang lebih baik.
Namun, pernahkah kita bertanya: apa sebenarnya kebahagiaan itu?
Apakah bahagia berarti memiliki banyak harta? Apakah bahagia berarti mempunyai rumah yang mewah, kedudukan yang tinggi, atau kehidupan yang serba berkecukupan?
Tidak selalu.
Kita sering melihat seseorang yang memiliki banyak harta, tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Ada pula orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi tidak mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan semata-mata tentang apa yang berada di tangan kita. Kebahagiaan yang sesungguhnya lebih berkaitan dengan apa yang ada di dalam hati ketika kita menghadapi kehidupan.
Ada sebuah nasihat yang sangat indah:
“Apabila diberi nikmat, ia bersyukur. Apabila diuji, ia bersabar. Dan apabila melakukan dosa, ia beristighfar.”
Tiga keadaan tersebut menggambarkan perjalanan hidup seorang manusia. Sepanjang hidupnya, seseorang tidak akan lepas dari nikmat, ujian, dan kesalahan.
Lalu, bagaimana seorang Muslim menghadapi ketiganya?
1. Ketika Mendapat Nikmat, Ia Bersyukur
Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.
Nikmat Islam, nikmat iman, kesehatan, keamanan, keluarga, rezeki, waktu, kesempatan, dan begitu banyak nikmat lainnya yang terkadang bahkan tidak kita sadari.
Allah berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Kita sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat tersebut hilang.
Kita baru menghargai kesehatan ketika sakit. Kita baru merasakan betapa berharganya waktu ketika kesempatan telah berlalu. Kita baru menyadari pentingnya orang-orang yang kita cintai ketika mereka sudah tidak berada di sisi kita.
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengucapkan alhamdulillah dengan lisannya.
Syukur yang sebenarnya tercermin dalam tiga hal: hati mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah, lisan memuji Allah, dan anggota badan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya.
Jika Allah memberikan kesehatan, gunakan kesehatan untuk beribadah.
Jika Allah memberikan waktu, gunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat.
Jika Allah memberikan harta, gunakan harta di jalan yang diridhai-Nya.
Itulah syukur yang sesungguhnya.
Allah telah menjanjikan:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
Maka jangan sampai nikmat justru membuat kita jauh dari Allah.
Sebab ukuran kebahagiaan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa pandai kita mensyukuri apa yang telah Allah berikan.
2. Ketika Mendapat Ujian, Ia Bersabar
Sebagaimana kehidupan tidak pernah lepas dari nikmat, kehidupan juga tidak pernah lepas dari ujian.
Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Setiap orang mungkin mendapatkan ujian yang berbeda.
Ada yang sedang diuji dengan masalah keluarga.
Ada yang diuji dengan kesehatan.
Ada yang diuji dengan kegagalan.
Ada yang diuji dengan masalah pekerjaan dan rezeki.
Ada pula yang sedang menghadapi persoalan yang tidak diketahui oleh orang lain.
Namun, kita harus memahami satu hal: ujian tidak selalu berarti Allah membenci kita.
Terkadang, justru melalui ujianlah Allah mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.
Ketika hidup lapang, seseorang mungkin lupa berdoa. Namun ketika kesulitan datang, tangannya kembali terangkat. Ketika dunia terasa tidak lagi bisa diandalkan, ia kembali menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tempat bergantung yang paling sempurna selain Allah.
Karena itu, ketika ujian datang, jangan hanya melihat betapa sakitnya ujian tersebut.
Lihat pula siapa yang memberikan ujian itu.
Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Mungkin hari ini kita belum memahami mengapa sesuatu terjadi. Mungkin kita belum mengerti mengapa doa yang kita panjatkan belum mendapatkan jawaban sebagaimana yang kita harapkan.
Tetapi seorang mukmin belajar untuk tetap berbaik sangka kepada Allah.
Sabar bukan berarti tidak merasa sedih.
Sabar bukan berarti tidak boleh menangis.
Sabar adalah tetap menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah ketika kehidupan sedang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Karena boleh jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai kesulitan justru menjadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
3. Ketika Berbuat Dosa, Ia Segera Beristighfar
Keadaan ketiga adalah ketika seorang hamba melakukan dosa.
Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin kita hindari sepenuhnya. Manusia adalah makhluk yang lemah. Kita pernah salah, pernah lalai, pernah meninggalkan kewajiban, dan pernah menzalimi diri sendiri.
Namun, persoalannya bukan hanya tentang apakah seseorang pernah melakukan dosa.
Yang lebih penting adalah:
Apa yang ia lakukan setelah melakukan dosa?
Apakah ia terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa?
Apakah ia mulai menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa?
Ataukah ia segera kembali kepada Allah?
Allah memuji orang-orang yang ketika melakukan kesalahan, mereka segera mengingat Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya.
Maka jangan pernah membiarkan dosa membuat kita putus asa.
Jangan mengatakan:
“Dosaku sudah terlalu banyak.”
“Dosaku terlalu besar.”
“Allah pasti tidak akan mengampuniku.”
Keputusasaan semacam itu justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah.
Allah berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Selama kesempatan untuk bertaubat masih ada, jangan menunda untuk kembali.
Jika hari ini kita melakukan dosa, maka bertaubatlah.
Jika ada kewajiban yang pernah kita tinggalkan, maka perbaikilah.
Jika ada maksiat yang sering kita lakukan, maka berusahalah meninggalkannya.
Dan perbanyaklah istighfar.
Seorang Muslim bukanlah manusia yang tidak pernah jatuh dalam kesalahan. Seorang Muslim adalah orang yang ketika jatuh, ia tahu ke mana harus kembali.
Kebahagiaan Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Dari tiga keadaan tersebut kita dapat memahami bahwa kebahagiaan seorang Muslim bukan berarti hidup tanpa masalah.
Seorang Muslim tetap akan menghadapi kehilangan.
Tetap akan menghadapi kesulitan.
Tetap akan merasakan sakit.
Tetap akan melakukan kesalahan.
Tetapi ia memiliki cara yang benar dalam menghadapi semuanya.
Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.
Ketika mendapat ujian, ia bersabar.
Ketika melakukan dosa, ia segera kembali kepada Allah.
Inilah salah satu bentuk kebahagiaan yang sejati.
Sebab orang yang bersyukur tidak akan mudah tenggelam dalam kekurangan.
Orang yang bersabar tidak akan mudah hancur ketika menghadapi kesulitan.
Dan orang yang gemar beristighfar tidak akan membiarkan dosa menjadi penghalang antara dirinya dan Allah.
Maka kebahagiaan bukanlah tentang memiliki kehidupan yang selalu sesuai dengan keinginan.
Kebahagiaan adalah ketika dalam keadaan apa pun, hati tetap memiliki Allah.
Saat diberi, ia ingat kepada Allah.
Saat diuji, ia kembali kepada Allah.
Saat bersalah, ia memohon ampun kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ketika memperoleh nikmat mampu bersyukur, ketika memperoleh ujian mampu bersabar, dan ketika melakukan dosa segera bertaubat dan beristighfar.
Semoga Allah memberikan ketenangan kepada hati kita, keberkahan dalam kehidupan kita, serta kebaikan di dunia dan di akhirat.
Aamiin.