Pemateri : Ustadz Muhamad Refsanjani Fahreza, S.H., M.H.
Khutbah ini memberikan penekanan mendalam pada hakikat bahwa nilai seorang manusia di sisi Allah Ta’ala sangat ditentukan oleh bagaimana akhir hayatnya (Innamal a’malu bil khawatim). Khotib mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah di zaman Nabi Musa Alaihissalam tentang kontrasnya akhir hidup seseorang.
Berikut adalah rangkuman poin-poin utamanya:
1. Pelajaran dari Kisah Kaum Nabi Musa Alaihissalam
Khotib membandingkan tiga profil manusia dengan akhir hidup yang bertolak belakang:
Para Penyihir Firaun (Husnul Khatimah): Meski puluhan tahun hidup dalam kesyirikan dan kekufuran, mereka mendapat hidayah dalam waktu singkat (waktu Dhuha) setelah melihat mukjizat Nabi Musa Alaihissalam. Mereka memilih mati syahid di tangan Firaun daripada kembali kepada kekufuran.
Balam bin Ba’ura (Su’ul Khatimah): Seorang ahli ilmu yang doanya senantiasa dikabulkan. Namun, karena penyakit hati (hasad/dengki) kepada Nabi Musa Alaihissalam, ia berpaling dari ayat-ayat Allah Ta’ala dan meninggal dalam keadaan murtad.
Qarun (Su’ul Khatimah): Awalnya adalah ahli ibadah yang fasih membaca Taurat. Namun, ketika dikaruniai kekayaan, ia menjadi sombong dan lupa diri, hingga akhirnya Allah Ta’ala menenggelamkannya ke dalam bumi.
2. Akar Masalah Su’ul Khatimah: Penyakit Hati
Khotib menjelaskan bahwa akhir yang buruk sering kali bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan buah dari apa yang tersembunyi di dalam hati:
Penyakit Batin: Kesombongan (ujub), rasa iri (hasad), dan cinta dunia adalah penyebab utama seseorang tergelincir di akhir hayatnya.
Fenomena “Pura-Pura Saleh”: Merujuk pada hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ada orang yang tampak mengamalkan amalan ahli surga di hadapan manusia (fima yabdu lin-nas), namun hatinya kotor. Ketidakkonsistenan antara lahiriah dan batiniah inilah yang membahayakan keselamatan akhirat.
3. Prinsip “Amal Tergantung Akhirnya”
Keadilan Allah Ta’ala: Allah Ta’ala Maha Adil. Jika seseorang jujur dan ikhlas dalam ketaatannya, Allah Ta’ala akan mewujudkan akhir yang baik baginya. Sebaliknya, orang yang hanya berpura-pura saleh akan ditampakkan jati dirinya di penghujung usianya.
Pelajaran Modern: Khotib menceritakan kisah seorang penulis besar yang dahulu membela Islam dengan karya-karyanya, namun karena kesombongan intelektual, ia berakhir menjadi ateis. Hal ini menjadi peringatan bahwa ilmu yang luas tidak menjamin keselamatan tanpa kerendahan hati.
4. Ajakan untuk Memperbaiki Hati
Mensyukuri Hidayah: Kehadiran dalam shalat Jumat dan istiqamah dalam shalat lima waktu adalah bukti cinta Allah Ta’ala dan ciri-ciri penghuni surga yang harus dijaga.
Membersihkan Jiwa: Jamaah diingatkan untuk terus membuang penyakit hati (sombong, hasad, dengki) karena itulah penghalang utama meraih Husnul Khatimah.
Penutup:
Kehidupan adalah tentang bagaimana kita berakhir. Mari kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan ketetapan hati dalam iman dan diwafatkan dalam keadaan terbaik (Husnul Khatimah), serta dijauhkan dari fitnah dunia yang menyesatkan.